✔ Sebaiknya Pemerintah Berhenti Berpura-Pura Berpihak Pada Pendidikan
![]() |
Apa gunanya juga, bila anggaran pendidikan besar kalau gedung-gedung sekolah tak maksimal dibenahi? |
Ketum IGI (Ikatan Guru Indonesia) Muhammad Ramli Rahim mengkritisi anggaran pendidikan dalam Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) tahun 2020 yang menyentuh angka Rp 505,8 triliun, namun belum bisa menjawab permasalahan dasar bidang pendidikan di Indonesia.
Baca Juga
Menurutnya, tidak ada gunanya kenaikan dalam angka-angka kalau tak dipakai efektif untuk pendidikan. Pemerintah selama ini terlalu hanyak bermain-main dengan angka-angka, tak sepenuhnya serius mengurusi pendidikan.
Pemerintah dinilai hanya mengelabui masyarakat dan tentu saja mengelabui diri sendiri. Ia mempertanyakan apa gunanya anggaran pendidikan besar kalau masih ada guru digaji Rp 50 ribu per bulan.
Ia menambahkan apa gunanya juga, bila anggaran pendidikan besar kalau gedung-gedung sekolah tak maksimal dibenahi? Apa gunanya anggaran pendidikan besar kalau materi didik dan alat peraga pendidikan saja tak bisa dibenahi.
"Jadi sebaiknya pemerintah berhenti berpura-pura berpihak pada pendidikan tapi dananya disebar ke mana-mana," kata Ramli yang kutip dari JPNN (20/08/2020).
Anggaran pendidikan 20 persen dari APBN yang konon sesuai amanat Konstitusi itu sudah terealisasi semenjak pemerintahan SBY. Ada dua hal yang dianggap Ramli kurang pas dalam memenuhi angka 20 persen anggaran pendidikan tersebut.
Pertama, angka-angka anggaran pendidikan dalam APBN belum sesuai dengan amanat UU Sisdiknas (Sistem Pendidikan Nasional) yang menyebut bahwa dana pendidikan 20 persen APBN yakni di luar honor pendidik dan biaya pendidikan kedinasan.
Kedua, efektivitas pengalokasian dan pemanfaatan anggaran dipertanyakan mengingat Kemendikbud selama ini hanya mengelola 10 persen dari anggaran pendidikan (2% dari APBN) dan sisanya tersebar di kementerian lain serta transfer ke daerah.
Sebagai contoh, pada APBN 2020, alokasi anggaran fungsi pendidikan mencapai Rp 440,9 triliun. Dari jumlah tersebut, Kemendikbud yang bertanggung jawab terhadap pendidikan dasar dan menengah hanya mengelola Rp 40 triliun (9,1%), lebih kecil dibanding Kementerian Agama (Rp 52,7 triliun) dan Kemristekdikti (Rp 40,4 triliun).
Lihat juga: Kacau, Pendidikan Dasar Kita Lebih Banyak Akademiknya Daripada Nilai Budi Pekerti
Ramli menegaskan, masalah utama pendidikan kita ada di pendidikan dasar. Namun, di sanalah kerusakan paling parah, guru honorer paling banyak, alat peraga pendidikan dan akomodasi pendidikan seadanya. Menurutnya, SMA, SMK, MA dan Pendidikan Tinggi akan lebih gampang dibenahi kalau pendidikan dasar kita baik.
Menurut IGI hal paling utama dan paling serius dibenahi yakni pendidikan dasar yaitu SD dan SMP. Tenaga pendidiknya harus guru-guru terbaik dengan pendapatan yang cukup. Fasilitasnya harus akomodasi terbaik dan kurikulumnya mesti diubah lebih fokus pada pengusaan ilmu-ilmu kebutuhan dasar dan pendidikan karakter.
Belum ada Komentar untuk "✔ Sebaiknya Pemerintah Berhenti Berpura-Pura Berpihak Pada Pendidikan"
Posting Komentar